ZONA BUDAYA

Tampilkan postingan dengan label olimpiade sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label olimpiade sastra. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Januari 2011

Ikhtiar Penyetaraan Madura-Jawa : Kado Spesial admin Zona Budaya di Madura

www.google.com
Melihat Lebih Dekat Proyek Suramadu (3-Habis)

Bila musim labuh hujan tak turun/ kubasahi kau dengan denyutku/ bila dadamu kerontang/ kubajak kau dengan tanduk logamku/ di atas bukit garam/ kunyalakan otakku/ lantaran aku adalah sapi karapan/ yang menetas dari senyum dan air matamu/ aku lari mengejar ombak aku terbang memeluk bulan/ dan memetik bintang gemintang/ di ranting-ranting roh nenek moyangku/ di ubun langit kuucapkan sumpah: Madura, akulah darahmu.

UNTUK melengkapi tulisan ini, saya perlu mewawancarai D Zawawi Imron. Dari penyair, budayawan, yang juga seorang kiai itu, saya ingin menggali informasi seputar Madura pasca-Suramadu, khususnya dari sudut pandang kultural.
Zawawi adalah penyair dengan reputasi nasional, bahkan internasional.

Sejumlah karyanya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Belanda, dan Bulgaria. Meski demikian, ia lebih suka menetap di tanah kelahirannya, Desa Batangbatang, sekitar 20 km arah timur Sumenep, Madura.

Sebagai penyair yang lahir dan berproses di desanya, puisi-puisi Zawawi kental bernuansa Madura. Ia bisa dibilang mencintai Madura dengan sepenuh jiwa. Mengutip Jamal D Rahman, mantan Pemred majalah sastra Horison, cinta dan penghormatan Zawawi terhadap Madura melampui cinta dan penghormatannya kepada sang ibu. Puisi Madura, Akulah Darahmu di atas salah satu tengaranya.

Dari Surabaya, saya menelepon Zawawi. Saya berharap ia tengah berada di kota yang sama. Namun di ujung telepon, penyair yang acap mengenakan topi pet itu, mengatakan dirinya sedang berada di rumah. Sebenarnya saya ingin menyambanginya di Sumenep, namun mengingat jauhnya jarak serta keterbatasan waktu, wawancara terpaksa saya lakukan via telepon.

Proyek Suramadu, kata Zawawi, dapat dimaknai sebagai ikhtiar penyetaraan antara Jawa dan Madura. Selama ini ketimpangan dua wilayah terlihat dalam banyak hal, baik secara ekonomi maupun sosial budaya. Sadar atau tidak, ketimpangan itu memengaruhi sikap mental masyarakat  Madura.

Zawawi memberi ilustrasi. Jika seseorang hendak menyeberang dari Madura ke Surabaya, orang Madura menyebutnya dengan onggha (naik). Sementara aktivitas sebaliknya disebut toron (turun). Onggha dan toron dua kata yang berlawanan. Hal itu menunjukkan posisi Surabaya atau Jawa  yang secara kultural lebih tinggi dari Madura.

Zawawi berharap, pembangunan Jembatan Suramadu akan mengangkat Madura ke posisi yang setara dengan Jawa. Prinsipnya adalah membangun Madura, bukan membangun di Madura.

Saat ditanya seputar dampak buruk industrialisasi pasca-Suramadu, lelaki berjuluk “Si Celurit Emas” itu enggan berkomentar banyak. Menurutnya, proyek Suramadu adalah keniscayaan. Melawan sesuatu yang niscaya hanya akan memperuncing permasalahan. Maka dalam hal ini, ia memilih untuk berpikir positif.

Lebih baik, energi yang ada digunakan untuk bekerja, meningkatkan sumber daya manusia Madura agar siap menghadapi proses industrialisasi. Caranya dengan meningkatkan sarana-prasarana serta mutu pendidikan. Jenis pendidikan bisa bersifat praktis maupun manajerial. Terkait itu, Zawawi mengimbau kepada potensi-potensi Madura yang ada di luar turut berkontribusi.

Sementara, untuk mengantisipasi dampak buruk industrialisasi, orang Madura perlu memperkuat identitas kemaduraannya. Identitas kemaduraan, lanjut Zawawi, lebih merujuk pada nilai-nilai keislaman.

“Biarkan industrialisasi menjadi bagian dari Madura, tapi jangan sampai membuat masyarakat Madura menanggalkan kearifan budaya yang dimilikinya.”
Ya, meski seorang pembela budaya Madura yang gigih, Zawawi tak memandang industrialisasi sebagai hantu yang menakutkan. Menurutnya, industrialisasi di Madura pasca-Suramadu harus disikapi secara dewasa. 

Potensi Konflik

Agak berbeda, Guru Besar Sosiologi Pembangunan Universitas Airlangga Prof Dr Mustain MSi yang saya temui di kampus FISIP Universitas Airlangga, menyorot potensi konflik yang mungkin terjadi di Madura pascaberoperasinya Jembatan Suramadu. Untuk mengungkapkan hal itu, ia menyampaikan pemaparan secara runut.

Menurut Mustain, mobilitas sosial akan terjadi pascapengoperasian Jembatan Suramadu. Akan terjadi perpindahan masyarakat dalam jumlah besar, terutama dari Jawa (Surabaya) ke Madura. Daerah-daerah di sekitar Kamal dan Pesanggrahan akan menjadi kawasan Surabayan.

Gejala itu sudah tampak sejak mencuatnya rencana pembangunan Jembatan Suramadu. Sudah ada investor, pengembang, atau pribadi yang berupaya membeli tanah-tanah di kawasan itu. Selain harga tanah yang masih murah, jaraknya juga relatif dekat dengan Surabaya.

Terlebih, Jembatan Suramadu terkoneksi dengan sejumlah ruas tol di Jawa Timur. Untuk menuju Bandara Djuanda, dari pesisir Bangkalan hanya butuh waktu kurang dari 30 menit.

Demografi sosial di Bangkalan bagian barat akan beranjak cepat. Harga tanah melonjak tajam, dan praktis kawasan itu akan menjadi tempat hunian pendatang yang berasal dari kalangan menengah. Sementara masyarakat lokal yang diasumsikan memiliki SDM rendah, tidak akan mampu bersaing.

Menurut teori sosiologi, ketika terjadi interaksi antara dua pihak, akan terjadi proses packing order. Siapa yang lebih kuat akan menjadi pihak yang dominan. Sejauh masih dalam tataran asosiatif hal itu tidak menjadi masalah.

Namun dalam proses berikutnya, cepat atau lambat akan terjadi konflik kepentingan. Warga lokal yang merasa punya hak atas wilayah, tentu tidak akan tinggal diam.
Untuk mengatasi hal itu perlu kebijakan yang bersifat kondusif.

Pemerintah dalam hal ini memegang peran strategis, yakni menciptakan situasi yang memungkinkan proses sosial itu berlangsung secara alamiah. Secara praksis, hal itu diwujudkan dalam serangkaian kebijakan pembangunan.

Antara lain membuat ketentuan tentang area perumahan, fasilitas umum, serta sarana dan prasarana publik. Jangan sampai pabrik dibangun di area permukiman.

Kebijakan yang baik mestinya didasarkan pada studi komperehensif. Pelu melakukan pemetaan sosial untuk mengetahui apa yang sesungguhnya diinginkan masyarakat.

“Saya tidak tahu apakah dalam proyek Suramadu, proses itu telah berjalan. Tapi yang jelas, saya yang tercatat sebagai konsultan sosial budaya dalam proyek itu, sama sekali tidak pernah dilibatkan,” ujar Mustain.

Nasi memang sudah menjadi bubur, namun Mustain tak melihat adanya langkah-langkah strategis dari pemerintah untuk mengantisipasi dampak sosial yang bakal terjadi pasca-Suramadu.

“Semestinya, jika proyek itu telah digulirkan sejak 10 tahun lalu, pemerintah segera melakukan persiapan. Jika itu dilakukan, niscaya masyarakat akan lebih siap menghadapi perubahan yang akan terjadi.”

Pada prinsipnya inovasi atau teknologi baru akan memengaruhi kehidupan masyarakat. Itulah mengapa keberadaan Jembatan Suramadu akan berdampak pada kehidupan masyarakat Madura. Apakah dampak yang timbul cenderung negatif atau positif, itu bergantung pada kemampuan mereka dalam merespons inovasi atau teknologi tersebut.

Sementara kemampuan merespons sangat dipengaruhi oleh sumber daya manusia. Kebijakan yang dilandasi studi komperehansif, ungkap Mustain, akan meminimalisasi dampak negatif, sekaligus mengoptimalkan dampak positif. (Rukardi-62)
www.suaramerdeka.com, Edisi 15 April 2009

Andai Sastra (Telah) "Berkuasa"


"PASTI, pasti kami akan kirim jadwal acara dan daftar materi segera. Paling lambat besok pagi," kata Drs Herry Mardianto di seberang telepon. Bukan basa-basi. Tak berapa lama kemudian, faksimile dari sekretaris II panitia Pertemuan Ilmiah Nasional XIII Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (Hiski) itu datang.
Begitu membaca tema kegiatan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta 8-10 September 2002 itu, saya terperangah: "Dinamika Global-Lokal dalam Perkembangan Sastra". Wow, betapa mewah dan gagah. Tapi, terus terang, saya tidak ngeh. Maklum, gelar sarjana sastra yang tersandang sejak 10 tahun lalu di pundak ringkih ini cuma berkat "belas kasihan" dosen terdekat.
Tapi toh saya berangkat juga. Dan alhamdulilllah, sambutan Ketua Panitia Pelaksana Drs Kasiyarno Mhum memberikan semacam "pencerahan". Dia menyatakan, tema besar itu akan dijabarkan melalui tiga subtema, yaitu (1) dampak globalisasi atas sastra dan responsi sastra terhadap globalisasi, (2) pendidikan dan pengajaran sastra masa kini dan masa depan, (3) wacana dan pengaruh desentralisasi dalam sastra.
"Globalisasi sudah sedemikian rupa terjadi. Batas-batas negara dan bangsa tak jelas lagi. Para sarjana sastra harus menyadari dan menyumbangkan pemikiran mereka melalui penelitian terhadap karya sastra," kata Ketua Umum Hiski Pusat Riris K Toha-Sarumpaet setelah menjabat hangat uluran tangan saya.
"Anda sudah baca Supernova karya Dee kan?" tanya doktor nan cantik itu dengan mata berbinar-binar.
"Tentu saja sudah."
"Globalisasi nilai sangat tampak dalam novel itu. Nah, para ahli sastra harus segera meneliti dan menemukan, lalu mengabarkannya kepada masyarakat agar semua tak terkejut, lho homoseksualitas kok sudah begini terbuka?"
* * * * *
MALAM, ketika istirahat di rumah teman (seorang sarjana sastra yang menekuni bisnis penerbitan buku), saya membaca beberapa abstraksi makalah. Tidak berdalam-dalam memang namun saya tetap merasa mengarungi "lautan pemikiran yang menakjubkan".
Di bawah judul "Pendidikan dan Modernitas Barat dalam Sastra Dunia Ketiga", esais Agus R Sardjono mencatat, menjadi bangsa terjajah bukanlah pengalaman yang mudah dilupakan. Itulah sebabnya pengalaman dengan kolonialisme merupakan tema yang tak mati-mati dalam khazanah sastra bangsa-bangsa yang pernah mengalami penjajahan.
Dengan mengambil contoh cerpen-cerpen Thailand dan Cina, serta novel karya Chinua Achebe, Jose Rizal, F Sionil Jose, Sutan Takdir Alisyahbana, Armijn Pane, dan Okot p'Bitek dia menggambarkan pendidikan Barat dalam sastra dunia ketiga, berikut dampaknya pada pandangan pendidikan serta gejala sosial masa kini di Indonesia.
Seperti menyambung soal "pengaruh asing" itu, dosen Universitas Ahmad Dahlan Dr Bustami Subhan MS dalam "Dampak Globalisasi terhadap Perkembangan Sastra Amerika dan Indonesia" menarik kesimpulan antara lain globalisasi menciptakan internasionalisme budaya, sekaligus memberikan tantangan dan peluang bagi perkembangan sastra Indonesia.
Salah satu jawaban terhadap tantangan itu, menurut pendapat Harfiyah Widiawati dari Universitas Padjadjaran Bandung, adalah sastra terapan. Melalui kajian interdisipliner, sastra dapat memperkaya diri dan memperluas ruang lingkup, sekaligus "menyeimbangkan" perubahan akibat globalisasi.
Dari sana terlihat, dampak globalisasi terhadap sastra dan respons sastra terhadap globalisasi. Apalagi, pada zaman lalu lintas budaya tak lagi mengenal batas negara seperti sekarang, "diplomasi sastra" tak terelakkan pula. Sebab, menurut catatan kritikus sastra Dr Melani Budianta, dalam dunia sastra muncul komunitas-komunitas internet yang memungkinkan anggotanya berdiskusi dan berbagi karya tanpa urusan visa.
Melani berpendapat, dalam persoalan dan dimensi lintas batas sastra tak (boleh) dipandang hanya dalam pengertian mimetik, sebagai cermin hubungan lintas budaya yang pernah atau sedang terjadi. Baik teks maupun aktivitas sastra adalah praksis budaya, sosial, atau politik yang membentuk atau bermain dalam interaksi lintas budaya tersebut.
* * * * *
AKAN tetapi, sudah siapkah seluruh bangsa ini menyambut interaksi lintas budaya tanpa visa? Pertanyaan itu serta merta mengantar saya ke anekdot tentang perbedaan mahasiswa Indonesia dan Malaysia.
Di sebuah ruang kuliah di Indonesia, empat mahasiswa dari Malaysia gelisah. Seperti mahasiswa yang lain, mereka mendapat waktu 45 menit untuk menyelesaikan tugas menulis sepanjang dua halaman. Mereka gelisah karena tak tahu mesti ngapain setelah 20 menit berlalu. Mereka telah merampungkan tugas tapi tak boleh keluar ruangan.
Sebagian besar mahasiswa (Indonesia) di ruangan itu juga gelisah. Tak tahu pula mesti ngapain lagi setelah 20 menit berlalu. Bukan karena telah merampungkan tugas melainkan justru sebaliknya: baru bisa menulis dua alinea. "Bagi anak Indonesia, menulis itu susah!" kata Taufiq Ismail yang menuturkan anekdot itu dalam ceramah pembuka.
Penulis kumpulan puisi Malu Aku Jadi Orang Indonesia itu menyatakan pula, kenyataan tersebut terjadi karena sudah sedemikian lama pemerintah membantai benih peradaban (membaca dan menulis) atas nama pembangunan!
"Berpuluh tahun ilmu-ilmu eksakta diagung-agungkan, sedangkan ilmu-ilmu humaniora termasuk sastra diabaikan. Siswa tak mendapatkan kenikmatan membaca buku sastra, tak pula mendapatkan kesempatan yang luas untuk belajar mengarang," papar Taufiq Ismail dengan "penuh kemarahan".
Lalu dia memaparkan hasil observasinya pada tahun 1997 perihal wajib baca buku sastra selama di SMU. Dia mewawancarai tamatan SMU di 13 negara. Hasilnya? SMU Thailand Selatan 5 judul, Malaysia 6, Singapura 6, Brunei Darussalam 7, Rusia Soviet 12, Kanada 13, Jepang 15, Swiss 15, Jerman Barat 22, Prancis 20-30, Belanda 30, Amerika Serikat 32, dan AMS Hindia Belanda 25 judul.
SMU Indonesia? "Selama enam puluh tahun, nol judul. Menyedihkan! Memalukan!" katanya dalam kesedihan dan kegeraman.
Saya terhenyak. Apalagi Riris K Toha-Sarumpaet menambahkan, baca buku sastra sangat berkaitan dengan kualitas bangsa. "Makin banyak membaca buku sastra, orang akan makin pintar, makin kreatif, makin sensitif, bahkan juga makin toleran..." tandasnya.
Sudah begitu, Taufiq menuturkan kebanggaan anak-anak Rusia ketika ditanya kenapa mereka sangat suka membaca novel Perang dan Damai karya Leo Tolstoy. "Inilah novel kami!" jawab mereka. Pernahkah kita dengar anak Indonesia menyatakan hal yang sama terhadap novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, misalnya?
Meski begitu, entah berdasarkan optimisme naif entah tidak, Riris tetap bersemangat menyatakan, suatu saat sastra akan "berkuasa" di sekolah. Bukan dalam arti menjajah melainkan sangat disukai para siswa.
Ah, andai selama enam puluh tahun terakhir sastra "berkuasa", bangsa ini pasti lebih beradab, lebih kreatif, lebih sensitif, dan lebih toleran. Bahkan, ini tak kalah penting, lebih tahu malu. Tidak seperti sekarang.
Ya, tidak seperti sekarang... Sudah dijatuhi hukuman pun masih "meradang, menerjang"! (Budi Maryono-75b)

Sumber:www.suaramerdeka.com
Kamis, 12 September 2002

Peserta Olimpiade Sastra dan Budaya Hanya 12 Siswa

Saut Situmorang. TEMPO/Yosep Arkian
CP|zonabudaya- Sebanyak 12  orang siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) mengikuti Olimpiade Bahasa dan Sastra yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Sastra dan Budaya Indonesia (IMSI) Fakultas Budaya Universitas Hasanuddin siang ini. 
Sedikitnya, 12 orang siswa perwakilan SMA dari  Kota Makassar, Kabupaten Maros, Kabupaten Gowa, dan Polewali Mandar berkompetisi dalam olimpiade itu.  Rosmawati, koordinator olimpiade menjelaskan Olimpiade Bahasa dan Sastra ini berlangsung dalam tiga babak.
Babak pertama berupa  pilihan berganda sebanyak 30 pertanyaan. Babak kedua berupa pertanyaan lisan. Masing-masing kelompok diberi tiga pertanyaan dan babak ketiga  tahap cerdas cermat untuk menentukan pemenang.

"Semua peserta diikutkan sampai babak ketiga, karena ada perubahan konsep, " ujar mahasiswa semester VI itu.

Menurutnya, peserta yang ikut dalam ajang ini lebih sedikit dibanding tahun lalu, yang mencapai ratusan orang sehingga ikut mempengaruhi konsep Olimpiade saat ini.  Seharusnya,  di babak pertama sudah dilakukan seleksi sebanyak 10 kelompok siswa peraih nilai tertinggi, kemudian babak kedua menyaring hingga tiga kelompok besar untuk ikut cerdas cermat.

"Kurangnya minat mengikuti olimpiade ini mungkin karena bertepatan dengan pengumuman ujian nasional," tuturnya.
Selain Olimpiade, mahasiswa IMSI FB Unhas juga menyelenggarakan lomba baca puisi dan cipta puisi yang dilakukan pada Senin kemarin. Lomba karya sastra itu diikuti oleh sembilan perwakilan sekolah dari Makassar, Bulukumba, Gowa, Barru, Maros, Polewali Mandar Sulawesi Barat, dan peserta umum.

Ketua panitia Suparman menjelaskan jika lomba baca puisi memperlombakan karya puisi Saut Situmorang berjudul  Inilah Aku  dan karya cipta puisi adalah karya asli peserta. "Pemenang semua lomba akan dibacakan pada acara puncak pada Rabu, besok, " ucapnya.

Sumber: www.tempointeraktif.com
edisi : Selasa, 27 April 2010 | 11:31 WIB